Sabtu, 10 Maret 2012

Kembali Ke Kota (selain) Semarang (Part 2)

-The story is continue-

Sekitar 15 menit melewati kota Sragen, kami sampai di suatu daerah, pokoknya terdapat banyak rumah, bukan lagi daerah sawah seperti yang mendominasi jalan Sragen - Gemolong. Pada saat itu terdapat seorang bapak-bapak sedang membawa rombong berisi penuh rumput naik motor dengan kecepatan sedang. Karena kecepatan kami tinggi, dengan mudahnya Awo menyalip bapak tersebut. 20 meter dibelakangnya, Deni berusaha mengikuti Awo untuk menyalip bapak tersebut. Namun sayangnya, kenyataan terkadang tak seindah rencananya.

H -5 detik
Awo mengambil lajur kanan bersiap untuk menyalip bapak tersebut

H -4 detik
Awo menyalip bapak tersebut dengan mudah, sedangkan Deni mengikuti di belakangnya dengan jarak sekitar 20 meter.


H -3 detik
Deni mengambil kanan bersiap untuk menyalip bapak tersebut

H -2,75 detik
Bapak tersebut menyalakan sein bahwa beliau siap berbelok kekanan

H -2,5 detik
Tidak ada tanda-tanda bahwa Deni akan menggagalkan aksinya menyalip lewat kanan

H -2 detik
Deni sudah terlanjur kencang, sehingga (mungkin) dipikirannya menyalip masih dimungkinkan

H -1,5 detik
Sang bapak sudah bersiap-siap belok ke kanan

H -1 detik
Deni semakin ke kanan menghindari bapak yang siap berbelok, sedangkan sang bapak sudah 90% siap belok ke kanan

H -0,5 detik
90% akan terjadi senggolan

H -0,25 detik
Aku berdoa semoga tidak terjadi senggolan

Detik ke H
“Braaaaakkkk”, ternyata bersenggolanlah mereka berdua

H +0,5 detik
Sang bapak terhuyung-huyung menahan motornya agar tidak jatuh, sedangkan Deni terus menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi karena tak sempat mengerem, atau ntah karena pengen kabur

H +1 detik
“D****t”, begitulah sang bapak meneriaki kami (baca : Deni) sambil terus menahan motornya agar tidak jatuh, sebuah makian yang khas :-D

Untung bapak itu tidak jatuh, andai jatuh bagaimana nasib kami? Seandainya disuruh ganti rugi 50 ribu tak masalah, lha kalau disuruh cari rumput lagi sampai rombong itu penuh gimana? Mau sampai Semarang kapan kami ini jika harus ngarit suket ditempat asing gini buat makan kambing, cukuplah makian itu kami dengar sebagai motivasi diri bagi kami untuk berubah.

Setengah jam berikutnya, kami pun sampai di Gemolong, mampir sebentar di sebuah warung kopi. Kami memarkir motor kami di emperan sebuah warung. Sang pemilik warung sudah siap menjamu kami dengan berada dibelakang meja pemesanan, tapi apa yang terjadi kemudian? Dasar pemuda tak tahu diri, kami malah berjalan ke warung sebelahnya yang berjarak sekitar 5 meter, tanpa membeli apa-apa dari warung tempat kami memarkir motor tadi, haha. Maafkan kami ya Ibu pemilik Warung, ane dan kawan-kawan nitip motor doang. :-)

Setengah jam kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang, tak ada hal menarik lagi disini, hingga kami sampailah di Kota Salatiga. Setelah keluar kota Salatiga, tiba-tiba rombongan kami kehilangan Deni, kemanakah dia? Kejebur got? (mustahil) Atau pergi ke penitipan motor, terus menitipkan motornya dan oper naik bis ke Semarang? (lebih mustahil) Atau balik lagi ke tempat bapak-bapak tadi untuk membantu mencarikan rumput? (mungkin saja)

Kami berhenti dipinggir sebuah POM bensin, kemudian menelponnya. Apakah yang terjadi? “Ban motorku kenek paku, suwek” –“Ban motorkuku terkena paku, sobek”-. Ya sudahlah, itu mungkin efek sial karena menyerempet  bapak-bapak yang membawa rumput tadi kali, makan tuh ban sobek, hahaha. Kami pun kembali istirahat di Salatiga 15 menit untuk menunggu ban Deni diganti, kali ini tanpa hiburan apapun, hanya melihat kendaraan yang lewat di jalur Salatiga - Semarang ini.

Selesai diganti, kami pun melanjutkan perjalanan. Namun kali ini kami tidak bersama-sama dikarenakan karakter jalan Salatiga - Bawen yang sempit dan padat, sehingga siapa yang bisa menyalip ya menyaliplah, bisa sampai sore jika kami harus menunggu satu-satu. Tak ada hal menarik lagi di sini, karena kami berjalan sendiri-sendiri. 1 jam kemudian sampailah kami di Semarang, sampailah kami di kontrakan kita. :-D

Agenda berikutnya? Tidur..............

-To Be Continued- 

BTW, bagi yang penasaran dengan kontrakan kita, tak kasih gambarnya dibawah nihi, serasa rumah mewah, asri dengan tambahan pohon-pohon hijau dan aksen mantel merah yang dijemur, unyu-unyu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar