Jumat, 09 Maret 2012

Kembali Ke Kota (selain) Semarang (Part 1)


Ya, kembali ke Semarang.

Tak terasa bahwa pagi itu adalah pagi hariku yang terakhir di kotaku (baca : desaku) pada bulan Februari. Sehari sebelumnya, aku dan semua kawan-kawanku (Awo, Totok, Deni, Oka) sudah sepakat bahwa pagi ini kita akan berangkat bersama-sama kembali ke Semarang, tempat 5 pemuda jantan (baca : galau) ini mencari sesuatu. Oya, sedikit rincian saja bahwa perjalanan kali ini akan menggunakan 4 motor saja, pengaturannya si Oka dibonceng Deni. Jarak 180km akan ditempuh dengan perjalanan motor, dan estimasi perjalanan sekitar 4-5 jam. Oleh karena itulah kami sepakat berangkat pagi jam 8 agar tidak terjebak hujan di perjalanan, takut dingin terus njekitut deh. :-D

Sesuai kesepakatan, semua telah berkumpul di perempatan terminal lama kotaku (kali ini beneran kota, bukan desa).
Berangkatlah kami berlima menuju kota perjuangan kami, kota Semarang. Untuk kali ini, kami mengambil rute Madiun - Sragen - Gemolong - Salatiga - Semarang, tanpa melewati kota Solo.

Ya ceritanya cari jalan yang agak sepi gitu loh, antisipasi seandainya ada yang ngantuk tidak langsung disantap oleh tahu kotak (baca : bis).

Sepanjang perjalanan dari Ngawi sampai daerah Sidowayah sepi saja, tak ada suatu hal yang menarik, hingga tibalah kita saat itu melewati daerah Getas. Sedikit gambaran saja bagi yang belum tahu tempatnya, Getas ini adalah suatu daerah hutan yang penuh tikungan antara Sidowayah (arah Ngawi) dan Gendingan (arah Sragen). Daerah ini merupakan area blackspot paling rawan di jalur Surabaya-Solo, di mana hampir tiap bulan pasti terjadi kecelakaan di sini. Komposisi hutan, dipadu dengan jalanan datar dan penuh tikungan menyebabkan hampir semua area menjadi blindspot. Ampun Bos, seandainya ada kecelakaan jangan ngelibatin ane, temen ane aja. Eh, keceplosan.

Selepas dari daerah Sidowayah, kami masuk ke area hutan dan biasanya mobil-mobil di sini berjalan dengan lambat karena tertahan rombongan truk dengan kondisi susah untuk menyalipnya. Kala itu kita berlima dengan sigapnya menelisip diantara rombongan truk dan mobil, ibaratnya saat itu kita tak kalah dengan pembalap motoGP, meliuk-liuk ke kiri dan kanan mencari celah untuk menyalip, bahkan lebih mirip penari ular daripada pembalap motoGP saking hebatnya liukan kita saat itu.

Hingga pada suat keadaan, kita mengekor rombongan truk yang berjalan lambat pada daerah Getas. Posisi saat itu adalah Awo paling depan, disusul Deni, Totok, serta aku sendiri paling belakang, di mana ketika itu kita memasuki sebuah tikungan saat berada dalam keadaan mengekor rombongan truk tersebut. Pada suatu momen, Awo ambil jalur kanan mengikuti sebuah mobil yang membuka jalan menyalip rombongan truk tersebut. Tak tinggal diam, Deni, Totok dan aku pun juga mengekor dibelakangnya. :-D

Truk pertama terlewati, truk kedua terlewati, truk ketiga juga gampang dilewati. Memasuki truk keempat, lewat sebuah celah diantara mobil didepanku dan truk yang disalipnya terlihat sekilas seonggok benda sangat besar mendekat. Kotak, berwarna silver biru, dengan 6 roda. Tak salah lagi, itu sebuah Bus Sumber Kencono mendekat dari arah berlawanan. Dengan pikiran jernih, aku yang sudah di jalur kanan siap untuk menyalip truk didepanku perlahan mundur serta mengarahkan motorku ke jalur kiri untuk menunda aksiku menyalip.

Namun ntah ada angin apa, apa karena sudah tak sabar kuliah, apa sudah terlalu rindu Semarang, atau karena kebelet pipis (yang pasti bukan ini, hehe :-P), Awo, Deni dan Totok tetap mengambil lajur kanan untuk menyalip truk tersebut. Penasaran dengan hal tersebut, aku pun segera mengarahkan kembali motorku kearah kanan, tepat diatas garis putih marka putus-putus. Segera kuintip kembali ke depan, dan kupastikan bahwa seonggok benda kotak dari arah berlawanan tersebut memang bus Sumber Kencono. Sejenak akupun galau, apakah akan ikut mereka menyalip atau tidak? Namun dengan kemampuan Fisika grade A+ yang kumiliki, aku pun tidak mengikuti aksi mereka untuk menyalip, cukup menjadi penonton dibelakang mereka saja.

Kuamati dari belakang, mobil yang membuka jalan berhasil menyalip truk tersebut, kemudian disusul oleh Awo yang juga berhasil mengarahkan motornya ke kiri pada detik terakhir sebelum bus Sumber Kencono datang. Diikuti kemudian Deni yang juga berhasil membanting setir kekiri pada sepersekian detik sebelum bersimpangan dengan bus. Bagaimana dengan Totok?

Waktu yang dia miliki jelas tak cukup untuk memindahkan lajur motornya ke kiri. Secara teoritis, dalam kondisi jalan ukuran IIIA dan terdapat truk dikiri serta bus di sisi kanannya, pasti dia pada posisi minimal terserempet bus atau terserempet truk jika dia berada di tengah-tengah dari 2 kendaraan tersebut.

“Tooooeeeeeeeeeeetttttt”, klakson Sumber Kencono pun membahana memecah sepinya suasana hutan siang itu, tepat disaat Deni dan Oka membantig setir kekiri. Akupun mengarahkan motorku sedikit kekiri menghindari srempetan dengan bus Sumber Kencono tersebut karena posisiku yang berada tepat diatas marka putih. “Whusssss”, angin kencang bertiup saat bus Sumber Kencono bersimpangan denganku, motorku pun serasa melayang terkena sabetan anginnya. Angin yang sangat kencang, karena memang jarakku dengan bus hanya kurang dari 1 meter. Akupun mendekat ke Deni, kudengar Oka berkata, "K**e, suarane klakson pas neng raiku, gek bise iku guede neng sampingku, mak wuss" -"Suaranya klakson tepat di mukaku, terus bisnya juga guede banget disampingku, anginnya wuss"-. Kemudian bagaimanakah nasib Totok?

Sepersekian detik sebelumnya, aku melihat sebuah pemandangan yang luar biasa. Seorang manusia naik motor dengan posisi dikiri menyalip sebuah truk Fuso, serta dikanan bersimpangan dengan Bus Sumber Kencono yang melaju dengan kecepatan tinggi, serta kejadian tersebut terjadi pada jalan ukuran IIIA! Benar-benar amazing, sebuah jalan IIIA bisa digunakan untuk menampung Truk Fuso, sebuah Bus serta sepeda motor yang terjepit dianatara mereka dalam waktu bersamaan! Tak terbayangkan bagaimana rasanya angin yang menerjang Totok saat bus tersebut bersimpangan dengannya, sesuatu banget ya pastinya. Untung kamu selamat Tok, haha. :-D

Oya, out of topic sedikit, mungkin sedikit menjelaskan tentang mengapa aku memilih untuk tidak ikut menyalip seperti kawan-kawanku, disinilah akan aku paparkan sedikit alasan ilmiahnya. Disini kecerdasan otak serta kemampuan Fisika grade A+ punyaku terpakai. Saat kuamati keadaan dari atas motorku yang berjalan dengan mellow diatas marka putih putus-putus ini, tercatat dalam penglihatanku bahwa kecepatan bus sekitar 80 km/jam. Aku mengekor truk dengan kecepatan 40 km/jam. Panjang truk sekitar 10 meter. Jarak antara bus dengan truk sebelum bersimpangan sekitar 200 meter. Dalam kondisi normal serta vt=v0.t+1/2.a.t2 dimana a truk=a bus=0 atau cenderung mendekati minus, maka didapatkan hasil bahwa aku tak mungkin bisa menyalip truk tersebut sebelum bus tersebut bersimpangan denganku. It's reality, hanya bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai kemampuan Fisika grade A+.

Back to topic. Setelah kejadian mendebarkan tersebut,  kami berjalan lebih santai, hingga akhirnya kami sampai di kota Sragen. Seperti jalur yang sudah direncanakan tadi, kami pun berbelok ke utara, tidak menuju Kota Solo tapi menuju kecamatan Gemolong untuk mengambil jalan desa menuju kota Semarang. Sebenarnya perjalanan santai saja, tetapi karena jalan yang cenderung sepi dan mulus, kami tertarik untuk memacu motor dengan kencang, bahkan kami pun terkadang terkesan kurang hati-hati. Hingga akhirnya ada suatu kejadian tak diinginkan lagi, kali ini menyerempet motor orang, benar-benar menyerempet. :-D

Sekitar 15 menit melewati kota Sragen, kami sampai di suatu daerah, pokoknya terdapat banyak rumah, bukan lagi daerah sawah seperti yang mendominasi jalan Sragen - Gemolong. Pada saat itu terdapat seorang bapak-bapak sedang membawa rombong berisi penuh rumput naik motor dengan kecepatan sedang. Karena kecepatan kami tinggi, dengan mudahnya Awo menyalip bapak tersebut. 20 meter dibelakangnya, Deni berusaha mengikuti Awo untuk menyalip bapak tersebut. Namun sayangnya, kenyataan terkadang tak seindah rencananya.

And then?
-To be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar