Sebenarnya aku juga tak tahu apa yang akan aku tulis ini, tetapi ya mungkin inilah yang dinamakan kerinduan. Ya, aku amat merindukan orang-orang yang namanya aku cantumkan dalam tulisan ini. Bukan aneh atau apalah namanya jika aku merindukan orang-orang di masa lalu, tetapi inilah akibat dari sebuah kenangan yang teramat indah. Terserah orang menilai bahwa ini yang dinamakan terlalu terbawa masa lalu, tetapi kalian memang pantas untuk selalu diingat. Masa SMA memang masa yang teramat indah untuk dilupakan.
Dimulai dari seseorang bernama Wahid “Sukro”. Inilah yang dinamakan sahabat. Bukan sekedar karena dia teman sebangku, tapi karena memang dialah salah satu orang yang benar-benar menjadi penerjemah sahabat bagiku.
Menjadi saksi sebagian besar peristiwa yang aku alami adalah kesehariannya, termasuk dimarahi Pak Mijo habis-habisan karena memanggil dengan ejaan lama. Ayo kapan dolan nang Surabaya maneh, teriak-teriak melepas beban? Opo nraktir mi ayam Margobawero yo ora popo. :D
Menjadi saksi sebagian besar peristiwa yang aku alami adalah kesehariannya, termasuk dimarahi Pak Mijo habis-habisan karena memanggil dengan ejaan lama. Ayo kapan dolan nang Surabaya maneh, teriak-teriak melepas beban? Opo nraktir mi ayam Margobawero yo ora popo. :D
Berikutnya, seseorang bernama Dini “Kebo” adalah hal yang tak mungkin terlupa bagiku. Seseorang yang benar-benar telah mengacaukan hidupku dulu ketika SMA. Semua perubahan yang terjadi padaku, datang melalui orang ini. Gadis pertama yang menangis dihadapanku, serta orang pertama yang amat percaya kepadaku dan membuatku juga tak ragu untuk percaya kepadanya hingga saat ini. Sahabat perempuan pertamaku di SMA, yang dengan tingkah laku konyolnya telah merubah dan membuat hidupku menjadi tak beraturan, meski kusadari dia telah membuatku menjadi lebih baik. 21 November 2008 tak akan terlupa, termasuk nasi goreng yang hanya menjadi janji, haha. :D
Ullul, Olenka, Novita “Mblendung”, Lukman “Ses”, Nadia “Galon”, Anisa “Bigos”, Sinta Dewi serta Trendy. Kalian adalah beberapa cerita lainnya tentang keindahan masa SMA.
Ullul, ah bingung aku akan menulis apa tentang dia. Seorang pemimpi ulung serta orang yang hidupnya dipenuhi oleh harapan-harapan indah. Dengan dialah aku berbagi segala hal tentang impian, tentang cita-cita, serta tentang segala tujuan hidup. Mengajariku tentang sebuah hal penting dalam hidup yaitu mimpi. Selalu bermimpilah, meski mungkin mimpi itu akan terbang, ataupun hanya diam seperti merpati yang kau lihat 3 Mei 2009 yang lalu di Jogjakarta.
Sinta Dewi dan Trendy, mengapa aku memasukkan nama kalian? Karena Sinta Dewi adalah cewek pertama yang aku kenal ketika masuk SMA. Masih terlihat jelas bagaimana sikapmu yang lugu kala itu, dan dengan PD menyanyikan lagu Five Minutes – Bertahan dikala MOS, meskipun kamu jelas-jelas salah dalam menyanyikan lagu tersebut. Keluguan yang bersifat semu, karena selanjutnya aku melihatmu sebagai salah satu orang yang paling optimis yang pernah aku temui, kamu adalah orang yang selalu mencari celah untuk berusaha memenangkan sesuatu. Kau benar-benar mengajariku tentang sebuah usaha, tentang sesuatu yang takkan mungkin kita capai jika kita tak pernah percaya akan sebuah keberhasilan. Ayo kapan duet MC bareng maneh. :D
Trendy adalah sebuah kisah SMA yang sebenarnya. Sebuah kisah tentang perjuangan cinta adalah hal yang paling kuingat darinya. Dan jujur saja, dia dengan segala usahanya adalah hiburan tersendiri buatku. Maaf kawan, jikalau aku sering menertawakanmu, aku hanya berpura-pura agar membuatmu lebih keras berusaha. Tapi engkau telah mengajariku banyak hal tentang paradigma sebuah pengharapan, tentang sebuah kekerasan hati akan sebuah keyakinan. Satu hal yang paling kuingin tahu darimu adalah ketika di dalam bus pulang dari Tour di Bali, ketika orang yang paling kamu harapkan menelponku yang sedang main kartu bersamamu, aku benar-benar penasaran ingin tahu apa yang kamu rasakan saat itu, tentu jika kamu berkenan menjawabnya. :D
Untuk yang terakhir, Olenka, Novita “Mblendung”, Lukman “Ses”, Nadia “Galon”, Anisa “Bigos”. Menyebut kalian satu-persatu jelas tak mungkin bagiku. Kalian adalah satu dalam hidupku, menyebut satu diantara kalian berarti menyebut kalian semua. Entahlah, aku bingung harus menulis apalagi tentang kalian, terlalu banyak kisah indah yang aku alami dengan kalian. Tetapi alasan aku tidak menulisnya bukan karena banyaknya kisah yang aku alami dengan kalian, tapi karena aku sudah mengantuk. Jam menunjukkan pukul 01.15 pagi ketika aku menulis ini. Yang pasti, aku sangat rindu saat kita hujan-hujanan di Alun-Alun 24 Oktober 2009, serta makan Yoghurt bareng dirumah Olenka seperti 16 Oktober 2009 silam. Ayo, kapan begitu lagi.. :D
Untuk nama-nama yang belum aku sebutkan, maaf bukannya aku tak mengingat kalian, tapi aku akan memanggil kalian dalam satu nama saja, “KOMPALOR”. Kalian yang paling terkenang dari SMA, meski aku mengalami berbagai hal lain, termasuk mengalami berbagai kelas selain kalian. Tapi kalian tetap yang paling membekas, karena Kompalor memberiku sebuah hal yang amat berharga. Kalian memberiku kepercayaan, sebuah hal yang tak aku dapatkan selain dari kalian, sebuah hal yang membuatku teramat merindukan kalian.
Setyo yang gampang budrek, Luthfi yang aneh, Yunita dan Arin yang isinya tiap hari curhat masalah HPnya, Nurfiah yang memanggilku Mas (haha..), Nurani dan Vica yang menemaniku selama di Bali, Fika yang tingkah lakunya gak jelas, Fahrisa yang tawanya membahana (pasti setelah membaca ini langsung tertawa), Berlian yang menye-menye, Harul sing meneng wae, Aufrida yang manja, Winda yang bahkan aku baru mengenalnya berbulan-bulan setelah sekelas (maaf ya..), Deny sing pokoke ngono kae, PT sing gak tau garap ugas, Riska sang asongan kelas, Irma yang pertama membuatku merasakan KFC (ayo, kapan maneh? Hehe..), Ayu yang amat penurut, Maulisda yang Kamera HPnya paling bagus, Linda si tukang protes, Lisa yang pendiam kayak batu (haha..), Erliana yang aneh, Esti yang suka asal nyeplos, Siti Fathonah yang liar, serta semua keluarga KOMPALOR yang tentunya tak bisa aku sebutkan semuanya disini dikarenakan alasan yang amat jelas, aku ngantuk.
Bagai merekam siklus alam dari gugurnya daun-daun, betapa memang benar bahwa tak ada keabadian didunia ini. Ada saatnya hijau, layu, dan kan luruh pergi sendiri-sendiri tergantung kemana angin kan membawanya. Setiap kali terpesona oleh rahasia alam, betapa butuh harmonisasi dan rasa saling mengerti untuk mewujudkan kebersamaan yang kokoh. Kebersamaanku bersama kalian amatlah sulit untuk dilupakan.
Sahabat adalah 1 jiwa dalam 2 tubuh, begitu kata Aristoteles. Bahkan, saking hebatnya sebuah rasa persahabatan, Andresa Hirata pun rela untuk menuliskan nama-nama sahabatnya di setiap tempat yang dia kunjungi. Aku memang tak mungkin menulis nama kalian satu-persatu, tapi aku akan selalu membawa nama kalian semua di dalam hati pada setiap tempat yang aku kunjungi. Aku tak akan menulis nama kalian semua, tapi aku akan menulis nama kalian dalam satu kata, KOMPALOR. Love you KOMPALOR.
Nb. Tak perlu ada yang cemburu karena aku menyebut suatu nama, tak perlu ada yang tersinggung, tak perlu ada yang marah karena tulisan ini. Jika ada yang merasa cemburu, merasa terhina, terima sajalah apa adanya, tak perlu sampai dibawa ke meja hijau seperti kata Bu Watik. Aku bukanlah seorang pujangga yang bisa menulis kata indah, yang bisa menulis kata-kata makian menjadi pujian. Ini hanyalah sebuah frase untuk sedikit meringankan sebuah kerinduan pada orang-orang yang berarti dalam hidupku. Dan untuk Pyscisan, ada saatnya aku akan menulis tentang kalian, hanya belum waktunya saja, untuk saat ini aku masih merenungi keindahan yang terjadi selama 2008-2009, keindahan sebuah persahabatan yang penuh dengan kepercayaan.
It.s my family, it,s Kompalor.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar